Rabu, 02 Desember 2015
PELATIHAN MENTALITAS DASAR DAN KEWIRAUSAHAAN
Pos Penyuluhan Desa Hiyung bekerjasama dengan LPB Banua Prima Persada menyelenggarakan pelatihan Mentalitas Dasar dan Kewirausahaan bagi petani cabe rawit.Peserta terdiri dari 10 orang petani desa Hiyung Kec.Tapin Tengah, 8 orang petani desa PK Hilir Kec.Tapin Tengah dan 4orang petani desa Sungai Salai Kec.Candi Laras Utara. Pelatihan dilaksanakan selama 2 hari dari tanghal 2 sampai 3 Desember 2015 bertempat diBalai Penyuluhan Kecamatan Tapin Tengah. Acara diawali dengan sambutan dari pimpinan Balai BapakHari Subagyo, A.Md. Disampaikan oleh beliau agar para peserta dapat mengikuti pelatihan ini dengan baik dan diharapkan dapat bermanfaat untuk usaha taninya. Dilanjutkan dengan sambutan koordinator LPB Baprida : Djoko Handono Warih, SP yang menyampaikan hal senada dengan pimpinan balai sebelumnya. Pelatihan kemudian dibuka oleh Bapak Edwan selaku CDO perusahaan peƱdiri LPB Baprida. Narasumber dari Yayasan Dharma bhakti Astra Jakarta yaitu bapak Tholib Widyanto. Disampaikan oleh beliau, modal dasar petani adalah diri sendiri yaitu niat/kemauan untuk sukses dalam berusaha tani.
Selasa, 29 April 2014
MEMPERKIRAKAN PRODUKSI PANEN PADI DENGAN UBINAN
Untuk
menghitung perkiraan produksi panen padi biasanya digunakan cara ubinan.
Alat / bahan
yang perlu dipersiapkan : Meteran, tali, ajir, sabit / sabit bergerigi, terpal,
kantong
plastik dan timbangan. Waktu yang terbaik jam 9 – 12
siang
Cara Ubinan :
·
Pilih
2 lokasi yang akan dijadikan tempat ubinan (misal titik A dan B)
·
Ukur
menggunakan meteran kedua lokasi tersebut dengan jarak 2,5 m x 2,5 m.
·
Beri
tanda hasil pengukuran pada keempat sudut dari
kedua lokasi tersebut menggunakan ajir.
·
Hubungkan keempat ajir dengan tali hingga membentuk persegi.
·
Panenlah
padi yang berada
di tengah persegi tersebut
menggunakan sabit / sabit bergerigi.
·
Rontokkan
gabah dari malainya pada tempat yang telah diberi alas terpal.
·
Bersihkan
kotoran yang ada pada gabah.
·
Masukkan gabah dalam kantong plastik
·
Timbang
hasil dari kedua lokasi ubinan tersebut (misal titik A = 5,5 kg dan titik B = 6
kg)
Cara Menghitung Ubinan :
Misal dari hasil timbangan diatas
adalah titk A = 5,5 kg dan titik B = 5,8
kg, maka untuk menghitungnya adalah :
·
Jumlahkan
dahulu hasil timbangan kedua titik kemudian dibagi 2 (5,8 kg + 6
kg) : 2 =
5,9 kg
·
Karena
jarak ubinanya 2,5 m x 2,5 m maka luas ubinan adalah 6,25
·
Rumus
ubinan perkiraan = hasil rata-rata
timbangan x (10.000
: luas ubinan)
·
Perkiraan
produksinya = 5,9 kg x (10.000
: 6,25
)
= 5,9
kg x 1600
= 9440
kg/Ha GKP
·
Jadi
hasil perkiraan produksi adalah 9440
kg/Ha atau 9,44 ton/Ha GKP
Konversi GKP ke GKG dan GKG ke Beras
Berdasarkan hasil pertemuan Analisis Ketersediaan NBM Tahun 2013 di Pontianak konversi GKG ke beras
62,78%
Contoh Konversi
:
Dari hasil ubinan didapat 9,44 ton/Ha GKP.
Maka untuk GKG = 9,44 ton GKP x 88,45% = 8,35
ton GKG.
Sedangkan untuk beras = 8,35 ton GKG x 62,78% = 5,24
ton beras.
Dikutip dari berbagai sumber
Kamis, 03 April 2014
Rabu, 19 Maret 2014
Selasa, 11 Maret 2014
PEMBENIHAN CABE RAWIT DI DESA HIYUNG
Pemilihan benih
Pemilihan benih
merupakan langkah awal yang sangat penting dalam budidaya cabe rawit. Kualitas benih yang baik sangat berpengaruh
terhadap keberhasilan usaha budidaya cabe rawit menuju capaian mutu produk yang
kompetitif. Meskipun benih yang
digunakan oleh para petani cabe rawit di desa Hiyung berasal dari pertanaman
mereka sendiri, namun dalam pemilihannya sebagian besar telah menerapkan
seleksi terhadap tanaman sumber benih baik pada fase vegetatif maupun
fase generatif . Antara lain
:
• pada saat di persemaian seleksi dilakukan dengan membuang semaian
yang sakit, tipe simpang dan varietas lain.
• demikian juga setelah
bibit/semaian dipindahkan ke lahan pertanaman maka tanaman sumber benih harus
benar sehat, berbuah lebat serta bebas hama dan penyakit
• setelah panen dilakukan juga seleksi dengan memilih buah yang
matang sempurna (merah cerah), besarnya kurang lebih seragam serta membuang
buah yang bentuknya tidak normal maupun terlihat adanya tanda-tanda serangan
hama atau penyakit
Setelah proses seleksi seperti
tersebut di atas dilakukan, maka buah-buah sumber benih dibuang bagian
pangkalnya, dimasukkan dalam ember berisi air, direndam selama 1 malam,
keesokan harinya barulah diblender sebentar untuk memisahkan biji dengan
kulitnya. Hasil yang sudah diblender
dimasukkan dalam ember yang telah diisi air sampai penuh. Biarkan sampai biji-bijinya tenggelam. Biji yang terapung beserta ampas dibuang,
yang diambil hanya biji yang tenggelam. Ditiriskan sebentar sambil
diangin-anginkan. Biji-biji tersebut
kemudian dijemur di atas niru yang telah dialasi koran sampai kering. Jika cuaca panas dalam dua hari sudah bisa
kering. Setelah dijemur sampai kering,
biji/benih diangin-anginkan sampai betul-betul dingin baru kemudian disimpan
dalam wadah tertutup (biasanya mereka lakukan di malam hari). Lebih kurang dua bulan kemudian biasanya
benih ini baru mereka gunakan (untuk musim tanam berikutnya).
Menyemai benih
Menyemai benih
dilakukan dengan cara :
•Terlebih dahulu media semai disiapkan berupa tanah dan pupuk
kandang dengan perbandingan 2 : 1 dalam wadah peti kayu berbentuk persegi atau
persegi panjang (panjang, lebar dan tinggi disesuaikan dengan keinginan,
kemampuan dan jumlah benih yang akan disebar).
Siram.
•Benih direndam dalam
air hangat selama lebih kurang 30 menit.
Tetapi yang lebih sering mereka lakukan adalah merendamnya dalam air
biasa selama sehari semalam. Ditiriskan
dan diangin-anginkan barulah disebar ke media semai.
•Setelah benih disebar merata, ditutup dengan media, tipis saja. Peti
kemudian ditutup rapat dengan karung/plastik/kain basah agar kelembabannya
terjaga. Tiga atau empat hari kemudian
tutupnya dibuka, jika media terlihat kering maka perlu disiram. Setelah itu ditutup kembali. Tiga hari kemudian penutupnya dibuka, pada
saat ini biasanya benih sudah mulai tumbuh.
•Ada yang khas pada teknik persemaian mereka, yaitu “mangapal”. Mereka menyiapkan peti lain dan juga media
dengan komposisi yang sama dengan media semai.
Sebagian media dimasukkan ke dalam peti sampai sepertiga tinggi peti. Sisa media dibasahi dan digunakan untuk
“mangapal”. Kegiatan “mangapal”
dilakukan pada saat benih telah tumbuh plumula atau ada juga yang melakukannya
pada umur lebih kurang 4 minggu setelah semai.
1-2 batang bibit cabe rawit diambil, dipulung dengan media yang sudah
dibasahi, dibentuk menjadi bulatan sebesar kelereng. Bibit yang sudah dipulung kemudian diletakkan
di atas peti yang sudah diisi media tadi.
• Setelah akar terlihat keluar dari media “kapalan” bibit sudah siap
ditanam. Biasanya sudah berdaun 4-5
helai.
• Untuk pengendalian hama/penyakit di persemaian biasanya mereka
menggunakan furadan, dithane dan matador dengan dosis separo dari dosis yang tertera
di kemasan.| Bentuk Cabe rawit Hiyung |
| Tampilan Buah |
| Baris Tanaman dalam Sorjan |
| Cabe Rawit Hiyung Umur 30 HST |
Langganan:
Postingan (Atom)









